Risiko COVID-19 pada Bayi Baru Lahir, Apakah Bisa Tertular? oleh - klinik24jam.online

Halo sahabat selamat datang di website klinik24jam.online, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Risiko COVID-19 pada Bayi Baru Lahir, Apakah Bisa Tertular? oleh - klinik24jam.online, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Coronavirus disease atau COVID-19 menular melalui droplet (percikan ludah) yang mengandung virus atau melalui kontak dengan permukaan yang terkena droplet. Virus ini dapat masuk melalui mukosa saluran seperti hidung, mulut, dan mata. Lalu, bagaimana jika droplet tersebut mengenai bayi? Apakah bayi dapat tertular COVID-19?

risiko-covid-19-pada-bayi-baru-lahir-doktersehat

Risiko COVID-19 pada Bayi Baru Lahir

Dilansir dari CDC (Center for Disease Control and Prevention), penyebaran COVID-19 pada bayi baru lahir dapat saja terjadi melalui droplet yang ditularkan dari orang sekitar, seperti ibu/ayah, pengasuh, tenaga kesehatan, atau pengunjung yang mengidap COVID-19.

Di sisi lain, masih belum ada bukti kuat yang mendukung penularan dari ibu ke bayi selama dalam masa kehamilan atau pada saat proses melahirkan.

Hal ini selaras dengan pernyataan dari WHO bahwa sampai saat ini belum ada bukti atau laporan tentang transmisi vertikal COVID-19 dari ibu ke janin. CDC juga menegaskan bahwa virus SARS-CoV-2 tidak ditemukan pada cairan ketuban.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga mempublikasikan hasil penelitian kecil yang mereka lakukan. Seluruh responden dalam penelitian yang merupakan ibu hamil terinfeksi COVID-19 dilaporkan melahirkan bayi sehat tanpa terinfeksi COVID-19.

Kesimpulan sementara yang dapat ditarik adalah belum ada risiko penularan virus corona dari ibu hamil ke janin selama masa kandungan.

Apakah Bayi Baru Lahir Bisa Tertular dari Ibu yang Positif COVID-19?

Seperti yang dikemukakan di atas, kemungkinan bayi untuk terinfeksi SARS-CoV-2 adalah melalui droplet yang dapat ditularkan setelah bayi lahir. Jadi, apabila ibu terkonfirmasi positif COVID-19 berdekatan dengan bayi, tentu droplet dari ibu bisa saja menjadi media penularan ke bayi.

Lalu, bagaimana dengan ibu yang menyusui bayinya dengan ASI?

WHO menerangkan bahwa tidak ditemukan virus SARS-CoV-2 pada ASI ibu yang terkonfirmasi COVID-19.

Walaupun sampai sejauh ini virus corona pada dasarnya tidak terdeteksi dalam ASI, penularan bisa tetap terjadi melalui kontak fisik ibu berstatus positif COVID-19. Sehingga, ibu yang terkonfirmasi COVID-19 disarankan untuk memberikan ASI kepada bayi dalam bentuk ASI perah menggunakan botol susu yang steril.

Gejala COVID-19 pada Bayi

Berdasarkan data yang dihimpun CDC, bayi 0-12 bulan merupakan rentang usia yang memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita gejala berat COVID-19 dibandingkan anak dengan usia lebih tua. Namun, informasi terkait gejala klinis dan derajat keparahan COVID-19 pada bayi masih sangat terbatas dan baru dilaporkan pada sedikit laporan kasus.

Gejala COVID-19 pada bayi kurang lebih mirip dengan orang dewasa, seperti:

  • Demam
  • Batuk
  • Pilek
  • Diare
  • Lemas
  • Napas cepat
  • Sesak
  • Nafsu makan menurun

Pada beberapa kasus yang dilaporkan oleh CDC, sejauh mana infeksi SARS-CoV-2 berkontribusi terhadap tanda-tanda infeksi dan komplikasi masih belum jelas karena gejala â€" gejala tersebut juga dapat ditemukan pada penyakit lain di bayi, seperti transient tachypnea of newborn, sindrom distress pernapasan pada bayi, dll.

Berdasarkan laporan kasus tersebut, mayoritas bayi cukup bulan (usia kehamilan 37 minggu) hanya memiliki gejala ringan dan sembuh tanpa komplikasi atau bahkan tidak bergejala sama sekali.  Dilaporkan pula terdapat bayi dengan positif COVID-19 menderita gejala parah hingga membutuhkan ventilator.

Tata Laksana Bayi Tetap Sehat dari Ibu Positif/PDP/ODP COVID-19

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Maret 2020 merilis Panduan Klinis Tata laksana COVID-19. Panduan ini berisi prinsip-prinsip yang perlu dilakukan dalam merawat bayi baru lahir dari ibu berstatus positif COVID-19, PDP (Pasien Dalam Pengawasan), dan ODP (Orang Dalam Pengawasan).

Tata Laksana Bayi Sehat yang Lahir dari Ibu Positif COVID-19

  • Bayi sehat yang lahir dari ibu terkonfirmasi COVID-19 masuk dalam kriteria kontak erat risiko tinggi
  • Bayi dilakukan swab pada hari ke-1 dan ke-14 untuk pemeriksaan SARS-CoV-2
  • Bayi dirawat terpisah dari ibu, sampai ibu dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawat (sesuai dengan kriteria yang berlaku)
  • ASI tetap diberikan kepada bayi dalam bentuk ASI perah
  • Pompa ASI hanya digunakan oleh ibu tersebut dan dilakukan pembersihan pompa setelah digunakan
  • Kebersihhan peralatan untuk memberikan ASI perah harus diperhatikan
  • Dukungan kesehatan mental dan psikososial diberikan untuk ibu dan keluarga
  • Bayi dimonitor ketat dan perlu difollow up hingga pulang
  • Jika bayi menunjukkan gejala, bayi dirawat sebagai PDP di ruang isolasi tekanan
  • Jika tidak memungkinkan, bayi dirawat di ruang isolasi (satu ruang sendiri)

Tata Laksana Bayi Sehat yang Lahir dari Ibu PDP

  • Bayi sehat yang lahir dari ibu PDP masuk dalam kriteria kontak erat risiko rendah dan tidak perlu dilakukan swab pada bayi
  • Bayi dirawat terpisah dari ibu, sampai diketahui hasil pemeriksaan SARS-CoV-2 ibu negatif
  • ASI tetap diberikan kepada bayi dalam bentuk ASI perah
  • Pompa ASI hanya digunakan oleh ibu tersebut dan dilakukan pembersihan pompa setelah digunakan
  • Kebersihan peralatan untuk memberikan ASI perah harus diperhatikan
  • Bayi dimonitor ketat dan perlu difollow up hingga pulang
  • Dukungan kesehatan mental dan psikososial diberikan untuk ibu dan keluarga 

Tata Laksana Bayi Sehat yang Lahir dari Ibu ODP

  • Tidak perlu dilakukan swab pada bayi
  • Bayi sehat dirawat gabung dan bisa menyusu langsung dari ibu, dengan melaksanakan prosedur perlindungan saluran napas dengan baik, antara lain menggunakan masker bedah, menjaga kebersihan tangan sebelum dan setelah kontak dengan bayi, dan rutin membersihkan area permukaan dimana ibu telah melakukan kontak
  • Dalam keadaan tidak bisa menjamin prosedur perlindungan saluran napas dan pencegahan transmisi melalui kontak, maka bayi diberikan ASI perah. 

Pencegahan COVID-19 pada Bayi

Berikut ini hal yang perlu dilakukan untuk bisa mencegah penularan COVID-19 pada bayi:

  • Usahakan tetap memberikan ASI kepada bayi. ASI mendung nutrisi dan antibodi yang berperan penting dalam memperkuat kekebalan tubuh si kecil
  • Cuci tangan menggunakan air dan sabun mengalir sebelum dan sesudah kontak dengan bayi, seperti menggendong, menyusui, mengganti pakaian/popok
  • Jauhkan bayi dari orang yang sedang sakit
  • Gunakan masker apabila Anda sebagai orang tua atau pengasuh sedang mengalami gejala batuk/pilek, dan kurangi paparan kontak dengan bayi
  • Terapkan etika batuk/bersin dengan baik, tutup dengan lengan atas bagian dalam atau gunakan tisu dan segera buang tisu tersebut

 

Informasi kesehatan ini disponsori:
logo-cimsa-ugm-doktersehat

 

  • American College of Obstetricians and Gynecologists, 2020. Practice Advisory Novel Coronavirus 2019. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-advisory/articles/2020/03/novel-coronavirus-2019
  • Center for Disease Control and Prevention, 2020. Evaluation and Management Considerations for Neonates at Risk of COVID-19.  https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/caring-for-newborns.html
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2020. Panduan Klinis Tatalaksana COVID-19 pada Anak Edisi 2.
  • World Health Organization. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) situation report-59. 2020. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200315-sitrep-59-covid-19.pdf?sfvrsn=33daa5cb_6

Itulah tadi informasi mengenai Risiko COVID-19 pada Bayi Baru Lahir, Apakah Bisa Tertular? oleh - klinik24jam.online dan sekianlah artikel dari kami klinik24jam.online, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Post a Comment

0 Comments